Minggu, 01 Januari 2012
Twitter saya ( @indrawidjaya ) cukup membuat malas ngurusin blog, tapi, sebelum kiamat, akhirnya 2012 ini, blog saya bernafas kembali. Setelah tahun 2011 kemarin hanya posting blog satu kali, itupun, awal tahun, dan itupun, membahas kematian si Helia, burung hantu yang kehidupannya gagal total sejak dibeli oleh keluarga saya. Farewell, burungku.
Sekarang saya mau membahas Mahasiswa dan Masiwa. Apa itu Masiwa? Apakah Masiwa itu semacam makanan di Fear Factor stage kedua yang dibuat dari peleburan antara sashimi dan sushi yang di blender jadi satu dengan wasabi? Tentu saja bukan, dan jangan dibayangkan rasanya jadi seperti apa. Masiwa disini, menurut saya adalah Mahasiswa separuh hati.
#nowplaying: Indonesia Raya
Mahasiswa berbeda dengan Masiwa. Ibaratnya Mahasiswa itu tim KPK, Masiwa itu anggota DPR. Mahasiswa adalah makhluk suci yang kuliah dengan presensi absen hadir lebih dari 90%, tetap angkat tangan untuk bertanya pada Dosen walaupun jam kuliah sudah lewat satu jam, nilai A berceceran di transkrip akademik, aktif di organisasi, dan suka berantem sama Polisi kalau lagi demo.
Sedangkan Masiwa, adalah makhluk yang jam kuliahnya ngikutin jadwal bangun tidur, dapat nilai aja B udah puasa Senin Kamis, berantemnya? Sama Petugas Akademik Kampus gara-gara ribut mau pindah kelas, atau gak bisa ikut UAS gara-gara sering absen, dan lain-lain yang tentunya, we know it so well.
Mahasiswa selalu berpakaian rapi, baju berkerah, dan entah kenapa, apa karena adanya "Pubersen" (hasrat dini menjadi Dosen), sering ditemukan beberapa Mahasiswa kuliah memakai kemeja batik, sepatu pantofel, dan membawa buku yang lebih berat daripada beban hidupnya sendiri.
Masiwa berpakaian "adanya apa", bukan "apa adanya", bagi yang kost, kalau hari itu baju-baju lain masih di tempat laundry, dan dikamar cuma ada satu kaos yang belum dicuci selama satu semester (atau bahkan satu dekade), maka bisa dipastikan Masiwa tersebut akan memakai kaos tersebut. Jangan tanya bagaimana soal pakaian dalam. Masiwa kuliah hanya bermodalkan nafas. Kertas? Tinggal pinjam sama Mahasiswa. Polpen? Pinjem juga sama Mahasiswadan niscaya takkan pernah kembali.
Mahasiswa bisa ditemukan di perpustakaan fakultas, di ruang Dosen (konsultasi mata kuliah), di markas organisasi kampus, atau di pinggir jalan lagi demo bersama Mahasiswa lainnya.
Masiwa bisa ditemukan berdiri diluar kelas sewaktu jam kuliah, memberi bahasa isyarat kepada temannya didalam kelas (tentunya semua Mahasiswa) yang artinya: "Woy! Kalau gak mau kepala pindah ke selangkangan, titip absen ya! AWAS!"
Setelah utak-atik Mbah Gugel, saya nemu ilustrasi yang kira-kira pas buat kaum Masiwa:

Hidup Masiwa!
Hidup jugalah Mahasiswa, siapa lagi yang mau dititipkan absen sama Masiwa.
Semoga 2012 nggak jadi kiamat.
Amin.
Sekarang saya mau membahas Mahasiswa dan Masiwa. Apa itu Masiwa? Apakah Masiwa itu semacam makanan di Fear Factor stage kedua yang dibuat dari peleburan antara sashimi dan sushi yang di blender jadi satu dengan wasabi? Tentu saja bukan, dan jangan dibayangkan rasanya jadi seperti apa. Masiwa disini, menurut saya adalah Mahasiswa separuh hati.
#nowplaying: Indonesia Raya
Mahasiswa berbeda dengan Masiwa. Ibaratnya Mahasiswa itu tim KPK, Masiwa itu anggota DPR. Mahasiswa adalah makhluk suci yang kuliah dengan presensi absen hadir lebih dari 90%, tetap angkat tangan untuk bertanya pada Dosen walaupun jam kuliah sudah lewat satu jam, nilai A berceceran di transkrip akademik, aktif di organisasi, dan suka berantem sama Polisi kalau lagi demo.
Sedangkan Masiwa, adalah makhluk yang jam kuliahnya ngikutin jadwal bangun tidur, dapat nilai aja B udah puasa Senin Kamis, berantemnya? Sama Petugas Akademik Kampus gara-gara ribut mau pindah kelas, atau gak bisa ikut UAS gara-gara sering absen, dan lain-lain yang tentunya, we know it so well.
Mahasiswa selalu berpakaian rapi, baju berkerah, dan entah kenapa, apa karena adanya "Pubersen" (hasrat dini menjadi Dosen), sering ditemukan beberapa Mahasiswa kuliah memakai kemeja batik, sepatu pantofel, dan membawa buku yang lebih berat daripada beban hidupnya sendiri.
Masiwa berpakaian "adanya apa", bukan "apa adanya", bagi yang kost, kalau hari itu baju-baju lain masih di tempat laundry, dan dikamar cuma ada satu kaos yang belum dicuci selama satu semester (atau bahkan satu dekade), maka bisa dipastikan Masiwa tersebut akan memakai kaos tersebut. Jangan tanya bagaimana soal pakaian dalam. Masiwa kuliah hanya bermodalkan nafas. Kertas? Tinggal pinjam sama Mahasiswa. Polpen? Pinjem juga sama Mahasiswa
Mahasiswa bisa ditemukan di perpustakaan fakultas, di ruang Dosen (konsultasi mata kuliah), di markas organisasi kampus, atau di pinggir jalan lagi demo bersama Mahasiswa lainnya.
Masiwa bisa ditemukan berdiri diluar kelas sewaktu jam kuliah, memberi bahasa isyarat kepada temannya didalam kelas (tentunya semua Mahasiswa) yang artinya: "Woy! Kalau gak mau kepala pindah ke selangkangan, titip absen ya! AWAS!"
Setelah utak-atik Mbah Gugel, saya nemu ilustrasi yang kira-kira pas buat kaum Masiwa:

Hidup Masiwa!
Hidup jugalah Mahasiswa, siapa lagi yang mau dititipkan absen sama Masiwa.
Semoga 2012 nggak jadi kiamat.
Amin.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



3 komentar:
wah..masiwa,,teringat perkataan ibu enny wahyuningtyas dulu,guru bahasa indonesia kita dulu waktu di smpn 6 banjarmasin...beliau sering memplesetkan mahasiswa itu adalah masiwa..kira" apa artinya ya beliau itu memplesetkan mahasiswa menjadi masiwa??
kayaknya aku termasuk masiwa deh mas, tapi nggak termasuk yang baju nggak diganti satu dekade. haha..
keep posting mas ya. jangan sibuk berantem mulu sama petugas akademik *eh :p
ndek kampus yo gak isok TA nddek kantor yo gak isok TA, aku gak masuk kriteria nemen...
Poskan Komentar